Berita Terbaru

Tue, 13 Dec 2011

DKI Jakarta Perlu Sumber Air Baru

Jakarta, Investor Daily - Lambatnya layanan penyediaan air minum di DKI Jakarta antara lain disebabkan keterbatasan pasokan air baku. Salah satu operator air minum PALYJA, mengaku sejak meneken kerja sama dengan Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya 1997, tidak ada tambahan sumber air baru, padahal pelanggannya kini sudah bertambah lebih dari dua kali lipat menjadi 420.227 pelanggan.

Kondisi ini mengakibatkan harga air minum di DKI Jakarta tidak lagi memenuhi skala keekonomiannya. Pasalnya, operator harus membeli air curah dari daerah lain yang harganya naik terus untuk memenuhi permintaan pelanggan. Di sisi lain, tarif air minum di DKI Jakarta sejak Januari 2007 tidak naik.

“Banyak perjanjian kerja sama (PKS) yang tidak dipenuhi, salah satunya tidak ada indeksasi water charge sejak semester I-2010,” kata Wakil Presiden PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) Herawati Presetyo ketika berkunjung ke redaksi Investor Daily di Jakarta, Senin (12/12). Akibatnya, PALYJA mengalami defisit (shortfall) dalam mengoperasikan pendistribusian air minum.

Menurut Herawati, shortfall terus meningkat karena tidak ada kenaikan tarif, sementara inflasi selama 4,5 tahun ini jika diakumulasi mencapai 32%. “Hingga Oktober 2011, shortfall PALYJA mencapai Rp 382 miliar,” kata dia.

Saat ini, sumber air PALYJA sebanyak 63% dari Jatiluhur, 33% beli curah dari Tangerang, dan 4% sisanya dari Kali Krukut. Harga air curah dari Tangerang, kata dia, saat perjanjian diteken tahun 1998 sebesar Rp 450 per meter kubik dan kini harganya telah naik Rp 2.200 per meter kubik. Padahal, sejak 2007 tarif air minum tidak dinaikkan.

PALYJA, kata dia, mempunyai program water for all melalui peningkatan cakupan layanan hingga 80%, penurunan tingkat kehilangan air atau new-revenue water (NRW) hingga kurang 30%, dan secara aktif berkontribusi terhadap pencegahan penurunan muak air tanah di Jakarta. Unutk itu, berbagai kendala yang mengadang investasi air minum perlu dibereskan dengan renegosiasi PKS.

Faktor lain juga menjadi penghambat layanan air minum ke pelanggan adalah besarnya utang PAM Jaya yang harus ditanggung operator. Ia mengusulkan agar hal itu bisa dikonversi menjadi investasi, sehingga NRW bisa diminimalisasi. “Mengatasi kebutuhan investasi (capex) di luar skema ful cost recovery bisa dilakukan melalui pemprov atau pemerintah pusat, atau kontribusi donor,” ujarnya.

Krisis Air Bersih

Sejak dimulainya PKS antara PAM Jaya dengan kedua operator tersebut pada awal 1998, hingga 2011, tidak ada penambahan pasokan baru, yaitu 17.800 liter/detik. Pasokan air itu meliputi air baku dari bendungan Jatiluhur yang dikelola Perum Jasa Trita (PJT) II sebanyak 15.000 liter/detik, ditambah pasokan air curah dari PDAM Tirta Kerja Raharja Tangerang sebanyak 2.800 liter/detik.

Total kebutuhan air bersih di Jakarta mencapai 26.938 liter/detik. Ada defisit pasokan air bersih sekitar 9.000 liter/detik. “Jakarta jelas krisis air bersih jika tak segera diatasi, apalagi 90% air baku dipasok dari luar Jakarta,” kata anggota Badan Regulator Pengelolaan Air Minum (BRPAM) Firdaus Ali, dalam diskusi terbatas yang digelar Investor Daily, akhir pecan lalu.

Jakarta benar-benar krisis saat tanggul Tarum Barat jebol di Kalimalang pada 31 Agustus 2011. Sebanyak 60% pelanggan PALYJA tak memperoleh pasokan air. Hanya 32% pelanggan yang bisa disuplai air bersih. Beruntung, air baku ke Aetra tak terganggu, karena jebolnya tanggul ada setelah tersalur ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran dan Pulogadung. Seluruh pasokan air baku Aetra berasal dari Jatiluhur yang dialirkan melalui Kanal Tarum Barat. Firdaus mendesak pemerintah untuk menambah pasokan air baku Jakarta. “Amankan air baku dan tambah pasokan airnya,” kata Firdaus yang juga staf pengajar Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Sementara itu, tarif air bersih yang diberlakukan berdasarkan Pergub DKI Nomor 17 Tahun 2006 meliputi enam kelas. Yaitu, K-I (pelanggan sosial) antara Rp 1.050/m3 K-II (yang berpendapatan rendah) Rp 1.050 – Rp 1.575/m3, K-IIIA (kelas menengah) Rp 3.550 – Rp 5.500/m3, K-IIIB (kelas atas dan usaha kecil) Rp 4.900 – Rp 7.450/m3, K-IVA (kelas atas dan usaha kecil) Rp 6.825 – Rp 9.800/m3, serta K-IVB (nondomestik) Rp 12.550/m3.

Kebocoran
Krisis suplai air ke pelanggan juga diakibatkan masih tingginya tingkat kebocoran atau NRW yang dialami kedua operator air bersih tersebut. Pada awal perjanjian, NRW Aetra mencapai 57,52%, hingga Oktober 2011 baru turun menjadi 45,46%. NRW PALYJA bisa menurunkan NRW dari 57%, mampu memenuhi target NRW 2011 pada posisi 41,3%.

Kebocoran itu disebabkan oleh dua hal. Pertama, akibat jaringan pipa yang sudah keropos karena banyak pipa tua tinggalan zaman Belanda. Pada 2010, PALYJA telah memperbaiki 41.762 titik kebocoran. Tahun ini hingga Juni, sudah sebanyak 22.118 titik. PALYJA berhasil merehabilitasi pipa sepanjang 935 km hingga manjadi 5.300 km. Pihak Aetra telah menambah panjang pipa dari 4.225 km pada 1999 menjadi 5.933km. Namun yang jadi masalah serius bagi PALYJA dan Aetra adalah munculnya janggo-janggo pencuri air bersih. Mereka melakukan penyambungan liar ke pipa jaringan air minum dan dijual menggunakan truk dan gerobak ke warga yang belum terjangkau jaringan air PAM.

“Janggo-janggo air itu ada di kawasan kumuh seperti Marunda, Penjaringan dan Muara Baru. Mereka muncul karena rendahnya law emforcement dari aparat Kepolisian maupun Pemprov DKI Jakarta,” kata Wakil Presiden Direktur PALYJA Herawati Prasetyo.

Berkali-kali petugas operator melaporkan tentang sambungan ilegal tersebut. Namun tak berdaya karena tak didukung keberanian aparat. “Petugas kami tak jarang dikalungi clurit. Bahkan saat eksekusi pemutusan sambungan liar itu dilakukan, aparat mundur teratur, takut,” kata Direktur Pelayanan Pelanggan PALYJA Budi Susilo saat mendampingi Herawati berkunjung ke redaksi Investor Daily, Senin (12/12).

Herawati menuturkan, tantangan operator ke depan adalah meningkatkan cakupan pelanggan dari 33,8% menajdi 80%. Saat ini operator air bersih wilayah barat Jakarta itu sudah mencapai 64,5%. Menurunkan NRW hingga kurang dari 30%.
“Agar pelayanan air bersih berhasil, dibutuhkan sumber-sumber air baru maupun perluasan jaringan primer,” kata Herawati yang juga Direktur di PT Astratel.

Direktur Operasional Aetra Lintong Hutasoit menyontohkan, di saat krisis pada 5 Maret 2010, pihaknya kekurangan air baku hingga 34,64%. Lintong mengatakan, krisis air baku dapat diatasi dengan empat cara. Pertama, melakukan normalisasi saluran Tarum Barat dengan cara dikeruk, meningkatkan pengelolaan air baku oleh PJT II dengan cara mengatur aliran air dari waduk Jatiluhur ke Jakarta, serta memanfaatkan air baku dari Kanal Banjir Timur (BKT). Kapasitas yang bisa digunakan mencapai 1m3/detik dan dialirkan ke Water Treatment Plan (WTP) atau IPA Pulogadung.

“Cara keempat, mempercepat pembangunan bendungan Hailim,” kata Lintong yang berbicara dalam diskusi tersebut. Normalisasi Kanal Tarum Barat, juga dapat dilakukan dengan membangun siphon (terowongan) di Kali Bekasi, Kali Cikarang, dan Kali Cibeet untuk mengurangi pencemaran air. Selain siphon, pemerintah pusat dan Pemprov DKI sedang membahas rencana membangun pipa air baku dari Jatiluhur ke Jakarta sepanjang 70 km.  

Sumber : Investor Daily 13 desember 2011